Yang Tersembunyi di Balik Jilbab Mama

Yang Tersembunyi di Balik Jilbab Mama | Dibalik Jilbab Pendiam Mama


Namaku Masto, aku sudah lama memperhatikan Mama. Bukan sebagai anak yang biasa melihat ibunya, tapi sebagai laki-laki yang melihat wanita.

Mama berjilbab lebar model segi empat yang selalu rapi, warna-warna soft pastel atau hitam polos kalau ke pengajian. Badannya montok, payudara penuh yang sulit disembunyikan meski dibalut gamis longgar, pinggul lebar, paha tebal yang kadang terlihat bentuknya saat dia naik motor atau melangkah cepat. Usianya 43, tapi wajahnya masih mulus, kulitnya putih kemerahan, bibir tebal alami, dan mata yang selalu tampak sayu seolah menyimpan rahasia.

Di ujung gang komplek, hampir setiap hari ada saja om-om atau anak muda yang melambai, nyanyi-nyanyi kecil, atau pura-pura nanya jalan padahal rumah kami sudah jelas di situ sejak aku kecil. Mama biasanya cuma tersenyum tipis, mengangguk sopan, lalu mempercepat langkah. Tapi aku tahu, di balik jilbab dan sikap pendiamnya, ada getar kecil di sudut bibirnya setiap kali itu terjadi.

Malam itu, seperti biasa, kami duduk berdua di ruang keluarga setelah Isya. Ayah sudah tidur di kamar karena capek lembur. Televisi menyala tanpa suara, hanya lampu remang dari lampu sudut. Mama tiba-tiba bicara pelan, suaranya agak serak.

“Mas… kadang Mama capek sendiri.”

Aku menoleh. Dia memainkan ujung jilbabnya.

“Capek gimana, Ma?”

Dia diam lama. Lalu hampir berbisik.

“Mama… kangen disentuh. Udah bertahun-tahun gitu. Ayah… ya gitu deh. Jarang. Kalau ada juga cepet banget. Mama kadang cuma bisa… sendiri.”

Aku menelan ludah. Jantungku langsung berdegup kencang. Ini bukan pertama kali Mama curhat begini. Tapi malam ini nadanya berbeda. Lebih… menggantung. Lebih mengundang.

Aku geser lebih dekat sampai paha kami bersentuhan.

“Kalau Mama mau… aku bisa bantu.”

Mama menoleh cepat, matanya membelalak.

“Maksud kamu apa?”

Aku tidak mundur. Malah menatap matanya dalam-dalam.

“Aku tahu Mama cantik. Aku tahu banyak laki-laki di luar sana pengen banget sama Mama. Tapi aku… aku yang paling dekat. Aku yang selalu ada. Kalau Mama mau merasakan lagi… aku siap kasih.”

Wajah Mama memerah hebat. Dia menunduk, tangannya gemetar memegang ujung jilbab.

“Kamu gila ya… itu dosa besar. Kita ibu anak.”

“Tapi Mama juga manusia. Mama juga punya nafsu. Dan aku juga laki-laki. Aku juga pengen Mama… lama sekali.”

Hening. Lama sekali.

Lalu Mama menghela napas panjang. Suaranya hampir tak terdengar.

“…jangan bilang siapa-siapa. Dan… pelan-pelan dulu.”

Aku langsung mendekat. Tangan kananku menyentuh pipinya, ibu jari mengusap lembut. Mama menutup mata. Bibirnya bergetar.

Aku menciumnya pelan. Pertama hanya sentuhan bibir. Mama kaku sebentar, lalu pelan-pelan membalas. Lidah kami bertemu, basah, panas. Ciuman yang tadinya ragu jadi semakin dalam, semakin lapar.

Tangan Mama naik ke leherku, menarikku lebih dekat. Aku merasakan payudaranya yang besar menekan dadaku. Keras, penuh, hangat.

Aku tarik jilbabnya pelan. Rambut hitam panjang Mama tergerai. Bau minyak rambut dan parfumnya langsung memenuhi hidungku. Aku cium lehernya, turun ke tulang selangka. Mama mendesah pelan.

“Mas… jangan di sini… nanti Ayah bangun…”

Aku angkat tubuhnya dengan susah payah—beratnya enak sekali di pelukanku. Kami berjalan pelan ke kamar Mama. Pintu dikunci. Lampu samping tempat tidur dinyalakan redup.

Aku dorong Mama ke kasur. Gamisnya langsung kusut. Aku naik ke atasnya, menciumnya lagi sambil membuka kancing gamis satu per satu. Bra hitam renda muncul, cup-nya penuh sesak. Aku tarik bra ke atas, payudara Mama yang besar terlepas. Putingnya cokelat tua, sudah mengeras.

Aku langsung mengulum satu puting, tangan satunya meremas payudara yang lain. Mama langsung melengkungkan punggung.

“Aaahhh… Mas… pelan… ahhh…”

Suara desahannya langsung lepas, tidak ditahan sama sekali. Padahal biasanya Mama orangnya pelan bicara. Ternyata di ranjang dia beda sekali.

Aku terus mengulum, bergantian, sambil tanganku turun membuka celana dalam Mama. Sudah sangat basah. Celana dalamnya putih polos, tapi bagian tengahnya gelap karena cairan.

Aku masukkan dua jari. Mama langsung menjerit kecil.

“Aduhh… Mas… dalam banget… aaahhh…”

Aku gerakkan jari perlahan, keluar masuk, sambil ibu jari menggosok klitorisnya yang sudah membengkak. Mama menggeliat-geliat, tangannya mencengkeram sprei.

“Mas… Mama mau… mau keluar… cepet…”

Aku percepat gerakan. Mama menutup mulutnya sendiri, tapi desahannya tetap lolos.

“Aaaahhh… ya Allah… keluaaarrr…!”

Tubuhnya mengejang keras. Cairannya menyembur kecil ke telapak tanganku. Mama orgasme pertama malam itu dengan wajah memerah dan mata berkaca-kaca.


Tapi itu baru permulaan.

Aku buka celanaku. Kontolku sudah keras sekali, urat-uratnya menonjol. Mama menatapnya dengan mata setengah terpejam.

“Gede ya… lebih besar dari Ayah…”

Aku posisikan diri di antara pahanya yang tebal. Ujung kontolku menyentuh bibir vaginanya yang licin.

“Masukin pelan ya, Ma…”

Mama mengangguk cepat.

Aku dorong perlahan. Kepalanya masuk. Mama menggigit bibir bawahnya.

“Aduhh… penuh… pelan Mas…”

Aku terus masuk sampai habis. Vaginanya panas, sempit, berdenyut-denyut. Aku diam sebentar, biar Mama terbiasa.

Lalu aku mulai gerak. Pelan dulu. Keluar masuk setengah batang. Mama langsung mendesah keras lagi.

“Aaahh… enak… Mas… lebih dalam lagi…”

Aku tarik hampir keluar, lalu sodok keras sampai pangkal. Mama menjerit.

“AAAAHHH! Ya Allah… dalem banget… lagi… lagi Mas…!”

Aku percepat. Kasur bergoyang keras. Suara benturan daging kami bercampur dengan desahan Mama yang sudah tidak lagi ditahan.

“Enak… enak banget… Mas… terus… jangan berhenti… aaahhh… Mama suka… suka diginiin…!”

Aku ganti posisi. Aku tarik Mama berdiri, membalikkan badannya, menyuruhnya bertumpu di meja rias. Dari belakang aku masukkan lagi. Posisi ini lebih dalam. Mama melihat pantulan kami di cermin—jilbab sudah lepas, rambut acak-acakan, wajahnya penuh nafsu.

“Mas… lihat Mama… Mama jadi gini gara-gara kamu… aaahhh… sodok lagi… keras…”

Aku genjot lebih kencang. Payudaranya bergoyang-goyang liar. Aku raih dari belakang, meremas keras sambil terus mengentot.

Mama orgasme kedua. Kali ini lebih hebat. Kakinya gemetar, cairannya menetes ke lantai.

“Keluar lagi… Mas… Mama keluar lagi… aaaahhhh!”

Aku hampir ikut. Aku tarik kontolku, memutarkan badan Mama, menyuruhnya berlutut.

“Mau keluar di mana, Ma?”

Mama menatapku dengan mata penuh nafsu.

“Di mulut Mama… kasih ke Mama…”

Aku sodok mulutnya beberapa kali, lalu melepaskan semuanya. Spermaku muncrat banyak di lidah dan bibir Mama. Dia menelan sebagian, sisanya menetes ke dagu dan payudaranya.

Kami berdua ambruk di kasur, napas tersengal.

Sejak malam itu, hampir setiap hari kami melakukannya.

Pagi sebelum Ayah bangun → di dapur, Mama kutekuk di atas meja makan, rok gamis disingkap, kutodong dari belakang sambil tanganku menutup mulutnya supaya tidak terlalu kencang.

Siang saat Ayah ke kantor → di kamar mandi, Mama kutopang satu kaki di wastafel, kutusuk dalam-dalam sambil air shower mengalir membasahi kami berdua.

Malam hari → di ruang tamu, di sofa, di karpet, kadang Mama di atas menggoyang pinggulnya sendiri sambil berbisik mesum.

“Mas… kontol kamu bikin Mama ketagihan… jangan pernah berhenti ya…”

Dan aku tidak pernah berhenti.

Mama yang dulu pendiam dan malu-malu, sekarang jadi liar di ranjang. Desahannya lepas, jeritannya kencang, tubuhnya selalu siap setiap aku menyentuh.

Kami tahu ini salah. Kami tahu ini dosa besar.

Tapi nafsu itu lebih kuat dari segalanya.

Dan kami terus melakukannya… lagi, dan lagi, dan lagi.



Sinopsis Pendek Bagian 2: Fantasi Tanpa Lepas Jilbab & Gamis

Aku bisik ke Mama: “Ma… aku pengen genjot mama tanpa mama lepas jilbab dan gamisnya. Tetap rapi, tapi dalemnya liar.” Mama tersenyum malu-malu, matanya berbinar senang. “Boleh, nak… Mama juga suka gitu. Lebih terlarang, lebih enak.” Malam itu, gamis tersingkap secukupnya, jilbab tetap utuh, kami mulai fantasi panas yang bikin Mama desah puas.

Baca Bagian 2..


Subscribe to receive free email updates: