Mama Kesepian, Aku Penuhi Kebutuhannya | Berbagi Kenikmatan Tanpa Cinta
Aku dan Mama tinggal berdua di rumah kecil di pinggir kota sejak Ayah pergi delapan tahun lalu. Aku sudah kuliah semester akhir, Mama 44 tahun, masih bekerja sebagai pegawai bagian administrasi di kantor pemerintahan. Tubuhnya tetap terjaga: payudara besar yang mulai agak kendur tapi masih penuh, pinggul lebar, paha tebal, dan kulitnya yang putih kecokelatan khas perempuan Jawa yang jarang terbakar matahari.
Kami tidak pernah bicara soal perasaan. Tidak ada kata “sayang” yang berlebihan, tidak ada pelukan lama, tidak ada tatapan mesra. Kami hanya dua orang dewasa yang kebetulan berbagi atap, berbagi dapur, berbagi kamar mandi, dan akhirnya… berbagi tubuh.
Semuanya bermula malam itu, sekitar jam setengah sebelas.
Aku baru pulang dari kampus, lelet jalannya karena hujan deras. Begitu membuka pintu depan, aku langsung mendengar suara. Bukan suara televisi. Bukan suara radio. Suara napas tersengal, suara kain bergesekan, dan desahan pelan yang terputus-putus.
Aku tahu suara itu.
Ruang tamu gelap, hanya diterangi lampu meja kecil di sudut. Mama duduk di sofa panjang, kakinya terbuka lebar, satu kaki naik ke sandaran sofa, satu lagi menjuntai ke lantai. Daster batik tipisnya tersingkap sampai pinggang. Celana dalam sudah melorot sampai mata kaki. Tangan kanannya sibuk menggosok-gosok klitorisnya dengan gerakan melingkar cepat, sementara tangan kirinya meremas payudara sendiri melalui kain daster. Putingnya menonjol jelas, keras, menembus kain.
Aku berdiri membeku di ambang pintu. Jantungku berdegup kencang, tapi kakiku tidak mau bergerak mundur.
Mama membuka mata perlahan. Dia melihatku. Tidak ada ekspresi kaget, tidak ada jeritan malu. Hanya tatapan datar, napas masih tersengal, dan jari-jarinya masih bergerak pelan di antara bibir vaginanya yang sudah basah mengkilap.
“Kamu pulang cepat,” katanya dengan suara serak.
Aku tidak menjawab. Penis sudah tegang di dalam celana jeans.
Dia menarik napas panjang, lalu bicara lagi, masih sambil menggosok dirinya pelan.
“Mau lihat sampai selesai… atau mau bantu Mama?”
Itu kalimat pertama yang benar-benar membuka pintu.
Malam itu kami tidak bicara cinta. Tidak ada kata-kata manis. Hanya nafsu mentah.
Aku melepas baju di tempat. Mama membuka daster sampai telanjang bulat. Kami bertemu di karpet ruang tamu. Dia langsung menarik kepalaku ke payudaranya. Aku menghisap putingnya keras, menggigit pelan, sementara tanganku meraba selangkangannya. Vaginanya sudah sangat basah, licin, panas. Bibir luarnya tebal dan bengkak karena dia sudah lama menggosok sendiri.
Mama mendorongku telentang, lalu naik ke atas. Dia memegang penis aku, mengarahkannya tepat ke lubangnya, lalu menurunkan pinggul dengan satu gerakan mantap. Aku langsung masuk sampai pangkal. Dia mengeluarkan desahan panjang, hampir seperti keluhan lega.
“Sudah lama… Mama kangen rasa ini…” katanya pelan sambil mulai menggoyang pinggul.
Tidak ada ritme romantis. Dia menggoyang cepat, kasar, seperti orang yang sudah menahan terlalu lama. Payudaranya bergoyang-goyang di depan wajahku. Aku meremas keduanya, mencubit putingnya keras sampai dia mengerang. Vaginanya menjepit penis aku sangat kuat, basah sekali, bunyi kecipak-kecipak terdengar setiap kali dia naik-turun.
Aku tidak tahan lama. Mungkin lima menit, mungkin kurang. Aku bilang mau keluar.
“Di dalam saja,” katanya cepat. “Mama sudah suntik KB.”
Aku langsung menyemprotkan semua di dalamnya. Dia terus menggoyang sampai orgasme kedua datang, tubuhnya mengejang, vaginanya berkedut-kedut menjepit penis aku yang masih berdenyut.
Setelah selesai, kami berbaring di karpet beberapa menit tanpa bicara. Sperma aku mulai meleleh keluar dari vaginanya, mengotori pahanya. Mama bangun duluan, mengambil tisu, membersihkan dirinya sendiri, lalu berjalan ke kamar mandi tanpa menoleh.
Sejak malam itu, tidak ada lagi batas.
Pagi-pagi di dapur sudah jadi rutinitas.
Mama sedang menggoreng telur, hanya pakai celemek tipis tanpa bra, tanpa celana dalam. Aku datang dari belakang, angkat celemeknya, langsung masukkan dari belakang sambil dia masih memegang spatula. Dia hanya menggeleng pelan, tapi tetap membuka kaki lebih lebar. Aku sodok cepat, keras, sampai pinggulnya membentur meja dapur. Kadang telur gosong karena kami lupa mematikan kompor.
Di kamar mandi lebih sering lagi.
Mama sedang keramas, rambut penuh busa. Aku masuk, langsung berdiri di belakangnya, sabuni payudaranya dari belakang sambil menggesekkan penis yang sudah keras di celah bokongnya. Dia membungkuk, tangan bertumpu di dinding keramik, lalu aku masukkan dari belakang. Air shower mengalir deras, menutupi suara benturan kulit dan desahannya. Kadang aku tarik rambutnya pelan, kadang aku tampar bokongnya keras sampai memerah. Dia suka kalau kasar.
Malam hari di kamarnya lebih panjang.
Dia suka posisi doggy di atas kasur. Bokongnya yang besar terangkat tinggi, vaginanya terbuka lebar, sudah basah sebelum aku sentuh. Aku biasanya mulai dengan menjilatnya dulu — lidahku menyusuri bibir luarnya yang tebal, masuk ke dalam, menghisap klitoris sampai dia menggelinjang. Setelah itu baru aku masukkan, pelan dulu, lalu semakin cepat. Kadang aku tarik keluar, gesek-gesek kepala penis di klitorisnya, lalu sodok lagi keras sampai dia berteriak pelan.
Dia juga suka kalau aku keluar di mulutnya.
Setelah beberapa kali, dia mulai minta itu. Dia berlutut di depanku, mulut terbuka, lidah menjulur. Aku pegang kepalanya, dorong penis masuk dalam-dalam sampai menyentuh tenggorokan. Dia tidak pernah muntah, hanya mata berair, tapi tetap mengisap kuat sampai aku keluar. Sperma aku muncrat di lidahnya, di bibirnya, kadang ada yang menetes ke dagunya. Dia menelan semuanya, lalu menjilat bersih kepala penis aku sampai tidak ada sisa.
Kami tidak pernah tidur berpelukan setelah selesai. Setelah orgasme terakhir, biasanya dia hanya bilang:
“Besok pagi Mama mau ke pasar. Bangunin jam lima ya.”
Lalu kami kembali ke kamar masing-masing.
Tidak ada cinta di antara kami. Hanya kebutuhan. Nafsu yang harus disalurkan. Tubuh yang saling memenuhi. Dan entah sampai kapan akan berlangsung seperti ini.
Tapi selama Mama masih membukakan kakinya setiap aku mau, dan selama penis aku masih mengeras setiap melihat tubuhnya yang telanjang di rumah, kami akan terus melakukannya.
Di dapur. Di kamar mandi. Di ruang tamu. Di mana saja.
Tanpa kata-kata manis. Tanpa janji. Hanya nafsu yang jujur.
.jpg)
.jpg)
.jpg)